KAPUSKOMLEKAD BERIKAN KULIAH PAKAR KEPADA RATUSAN KADET INFORMATIKA FTTP UNHAN RI
Jakarta – Kapuskomlekad Mayor Jenderal TNI Iroth Sonny Edhie, M.H.I., menjadi narasumber pada Kuliah Pakar program studi Informatika Fakultas Tehnik dan Teknologi Pertahanan Universitas Pertahanan (FTTP Unhan) RI yang diikuti oleh ratusan Kadet Informatika di ruang Teater Gedung Auditorium Unhan RI Kawasan IPSC Sentul Bogor, Jumat (12/6/2026).
Dalam Kuliah Pakar kali ini mengusung tema “Cyber Warfare dan Peran Software Dalam Sistem Pertahanan Modern" yang juga dihadiri oleh dua orang narasumber lainnya yaitu Asisten Khusus Menhan RI Bidang Cyber Security Sylvia Efi Widyantari Sumarlin dan Guru Besar FTIK Universitas Bakrie dan Kaprodi Sistem Informasi Universitas Bakrie Prof. Dr. Hoga Saragih.
Dekan FTTP Unhan RI Prof. Dr. Henry Setiyanto, S.Si., M.T., dalam sambutannya yang disampaikan oleh Wakil Dekan 2 Bidang Keuangan dan Umum FTTP UNHAN RI Brigjen Wawan Subarjo, S.Sos, M.Si. mengatakan bahwa dinamika ancaman global saat ini telah mengalami pergeseran paradigma yang sangat signifikan. Medan pertempuran tidak lagi dibatasi oleh garis batas geografis tradisional di darat, laut dan udara.
Prof. Henry Setiyanto juga berharap kepada para Kadet untuk menjadikan forum tersebut sebagai kawah candradimuka untuk menggali wawasan dengan menyerap pengalaman strategis dan teknis dari para narasumber agar inovasi dan riset yang kalian kembangkan benar-benar aplikatif dan memiliki daya gentar (deterrence effect) yang tinggi untuk pertahanan.
Sementara Kapuskomlekad dalam paparannya menjelaskan tentang era society 5.0 merupakan ruang kehidupan baru pada ruang digital berbasis teknologi revolusi industri 4.0. yang menciptakan nilai dan layanan baru bagi kehidupan manusia. Kekuatan teknologi digital terletak pada kecepatan, akurasi dan rela time sehingga menjadi backbone bagi semua tatanan kehidupan masyarakat.
Adapun teknologi utama yang mendorong tranformasi digital antara lain cloud computing, artificial intelligence/kecerdasan buatan, internet of things (IoT), blockchain dan big data analytics.
Transformasi teknologi secara drastis mengubah karakter peperangan yang sebelumnya perang identik dengan senjata konvensional, namun kini perkembangan teknologi digital menciptakan dimensi baru dalam konflik yang mengarah pada berbagai senjata canggih yang tak kasat mata yang mampu melumpuhkan suatu negara tanpa melepaskan satu peluru pun.
Menurutnya, ada dua hakekat ancaman di era digital yaitu ancaman militer dan ancaman nirmiliter atau non militer berupa ancaman yang tidak melibatkan penggunaan kekuatan fisik atau senjata, tetapi memiliki potensi untuk mengganggu stabilitas, keamanan dan kedaulatan suatu negara, salah satunya adalah ancaman yang memanfaatkan ruang spektrum elektromagnetik dan siber berbasis teknologi dan informasi.
Dalam konsep peperangan saat ini, siapa yang mempunyai teknologi canggih dan akses informasi lebih banyak dan akurat, maka dia memiliki kemampuan untuk membuat konsep operasi secara mendalam, sehingga pimpinan dapat mengambil keputusan yang tepat, cepat dan rela time.
Lebih jauh, mantan Danpussansiad itu menjelaskan bahwa kondisi saat ini sudah memasuki era perang generasi ke-5 yaitu information warfare atau perang informasi dengan memanfaatkan komando, kendali, komunikasi, komputerisasi, siber, intelijen, pengamatan dan penginderaan (K4SIPP) sebagai ujung tombak. Perang modern adalah perang kompetisi sistem informasi dengan memanfaatkan Command, Control, Communications, Computers, Cyber, Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (C5ISR) sebagai superioritas sistem informasi yang terintegrasi dan kemampuan pengambilan keputusan oleh pimpinan secara real-time dan lebih cepat dari musuh.
Perang modern berpusat pada perang jaringan (network Centric Warfare) yang menempatkan informasi, konetivitas dan integrasi jaringan sebagai inti kekuatan tempur yang didukung oleh teknologi sensor, sistem komunikasi, satelit, komputer, drone, artificial intelligence (AI) dan xyber warfare.
Untuk itu, ia berharap FTTP Informatika Unhan melahirkan calon-calon pemimpin yang mempunyai keahlian sebagai programmer, rekayasa perangkat lunak atau pun ahli di bidang teknologi informasi dan komunikasi.
Usai para narasumber menyampaikan paparannya, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang mana para Kadet Informatika terlihat antusias memberikan pertanyaan kepada narasumber.
