KAPUSKOMLEKAD BERIKAN PEMBEKALAN KEPADA TARUNA AKMIL TENTANG NCW SEBAGAI COG PERANG MODERN

KAPUSKOMLEKAD BERIKAN PEMBEKALAN KEPADA TARUNA AKMIL TENTANG NCW SEBAGAI COG PERANG MODERN

Kepala Pusat Komunikasi dan Elektronika Angkatan Darat (Kapuskomlekad) Mayor Jenderal TNI Iroth Sonny Edhie, M.H.I., didampingi Kakomlekdam IV/Dip dan Kakomlek Akmil memberikan pengarahan kepada Taruna tingkat III/Sermatar Akademi Militer (Akmil) mengenai "Network Centric Warfare (NCW) sebagai Kunci Perang Darat Modern".

Ceramah pembekalan yang diselenggarakan di Gedung Moch. Lily Rochli Kompleks Akmil Magelang Jawa Tengah, Rabu (1/7/2026) ini bertujuan untuk memperluas wawasan para Taruna terhadap perkembangan karakter peperangan modern yang semakin didominasi oleh teknologi digital, informasi, siber dan spektrum elektromagnetik.

Ceramah pembekalan ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian penutupan pendidikan bagi Taruna Akmil tingkat III/Sermatar Akmil Magelang. Ceramah pembekalan juga dihadiri oleh Gubernur Akmil, Kakorprodi, Kaprodi Teknik Elektro, Wadanmentar, Danyon Tingkat III/ Dewasa Mentar Akmil dan para Perwira Pengasuh Yontar Dewasa Mentar.

Dalam paparannya, Kapuskomlekad menegaskan bahwa kemenangan dalam peperangan modern tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan persenjataan, tetapi juga oleh kemampuan memperoleh, mengolah, dan mendistribusikan informasi secara cepat, tepat, dan akurat. Informasi menjadi fondasi utama dalam pengambilan keputusan seorang komandan di medan operasi.

Kapuskomlekad menjelaskan bahwa konsep Network Centric Warfare mengintegrasikan seluruh elemen tempur melalui interoperabilitas sistem sehingga setiap unsur mampu bekerja sebagai satu kesatuan yang harmonis. Melalui sistem komunikasi, komando dan pengendalian, sensor, jaringan data, serta sistem informasi yang terintegrasi, kekuatan tempur akan memiliki efek pengganda (force multiplier) yang meningkatkan kecepatan, akurasi, efektivitas dan daya tempur satuan.

Ia juga menekankan pentingnya penguasaan C5ISR yang terus berkembang menuju C6ISR, sebagai sistem terpadu yang mengintegrasikan Command, Control, Communications, Computers, Cyber, Intelligence, Surveillance, dan Reconnaissance dalam mendukung operasi militer modern. Integrasi tersebut didukung oleh berbagai media komunikasi, mulai dari satelit, radio, fiber optik, internet hingga teknologi cloud sebagai bagian dari sistem komando dan pengendalian yang menyeluruh.

Selain itu, Kapuskomlekad menguraikan bahwa perkembangan peperangan saat ini telah memasuki era Multi Domain Warfare, di mana operasi darat, laut, udara, siber, ruang angkasa serta spektrum elektromagnetik saling terintegrasi. Oleh karena itu, kemampuan perang elektronika, siber, pengelolaan spektrum elektromagnetik, penggunaan drone, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), hingga interoperabilitas antarsatuan menjadi kebutuhan utama dalam membangun postur TNI AD yang adaptif terhadap ancaman masa depan.

Mayjen TNI Iroth Sonny Edhie juga memberikan gambaran mengenai implementasi Cyber Electromagnetic Activities (CEMA) yang mengintegrasikan operasi siber, peperangan elektronika, dan manajemen spektrum elektromagnetik sebagai satu kesatuan dalam mendukung operasi militer. Penguasaan spektrum elektromagnetik dinilai menjadi faktor strategis dalam memperoleh keunggulan informasi sekaligus melumpuhkan sistem komando dan kendali lawan melalui kemampuan Electronic Attack, Electronic Protection, dan Electronic Support.

Di samping penguasaan teknologi, Kapuskomlekad mengingatkan bahwa seorang perwira harus tetap memiliki fondasi karakter yang kuat. Menurutnya, terdapat tiga hal utama yang harus dimiliki seorang perwira, yaitu semangat, kecerdasan, dan karakter. Karakter yang dilandasi nilai-nilai luhur, integritas, keikhlasan, pengabdian, serta jati diri sebagai Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional, dan Tentara Profesional akan menjadi kekuatan utama dalam menghadapi dinamika lingkungan strategis.

Mengakhiri ceramahnya, Alumnus Akmil 1993 itu berpesan kepada seluruh Taruna Akademi Militer agar mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan yang mampu menghadirkan solusi melalui kreativitas, inovasi, dan terobosan, memiliki hati yang bersih, serta senantiasa mengabdikan diri bagi kepentingan bangsa dan negara. Beliau juga mengajak para Taruna untuk bekerja dengan niat ibadah, menjunjung tinggi kehormatan, disiplin, serta terus memberikan manfaat bagi TNI AD, masyarakat, bangsa dan negara.

Melalui kegiatan ini diharapkan para Taruna Akademi Militer memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai transformasi peperangan modern sekaligus mampu mempersiapkan diri menjadi pemimpin TNI AD yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai kejuangan, kepemimpinan dan karakter prajurit Indonesia.

Ceramah pembekalan diakhiri dengan sesi tanya jawab.